Temuan Terobosan Perlu Pengakuan Akademik

Oleh: Andi Hakim Nasoetion

SEWAKTU belajar botani dari Boedijn, yang saya ketahui bakteri itu adalah makhluk bersel satu yang sitoplasmanya hilang, yang tinggal hanya inti
sel. Zat-zat genetik tersebar dalam inti tanpa sitoplasma itu. Kemudian lagi orang berpendapat, bakteri hanya memiliki satu khromosom. Ini semua
terjadi dalam dasawarsa limapuluhan abad keduapuluh.

Apa itu gen? Ketika saya belajar genetika tahun 1955, hal itu tidak pernah disebut. Baru pada tahun 1961, di pascasarjana dalam mata kuliah genetika, saya terbentur akronim DNA. Ketika tahun 1965 sebagai dosen bercerita mengenai DNA di dalam kelas di Bogor, sebagian mahasiswa tersenyum simpul karena ada yang berbisik, DNA adalah singkatan tokoh partai yang amat ditakuti. Pada masa itu kalau kita berbincang mengenai struktur bagian-bagian sel, semuanya adalah cerita sastera yang tidak dapat digeluti di laboratorium.  Namun, pada tahun ini Dr Antonius Suwanto dari Jurusan Biologi FMIPA IPB mendapat anugerah internasional karena menemukan bakteri yang
semula disangka hanya memiliki satu khromosom, ternyata mempunyai dua khromosom.

Dalam sains, jenis temuan ini dinamakan temuan terobosan, yang menafikan pengetahuan orang sebelumnya dan akan dirujuk terus-menerus
sebagai dasar untuk menemukan pengetahuan lebih baru dan lebih benar lagi. Tidak mustahil dari terobosan ini akan muncul terobosan baru yang
hebat dan berujung pada hadiah Nobel. Maka pengetahuan yang mendasarinya akan naik peringkatnya. Demikianlah pekerjaan ilmuwan
sejati itu akan saling berkaitan. Bila dalam olahraga dikenal pemeo citius, fortius, altius-lebih cepat, lebih kuat, lebih tinggi-di dalam sains yang
berlaku adalah “lebih benar”, karena kebenaran dalam sains hanyalah kebenaran sementara.

Mengagumi prestasi orang setelah mendapat anugerah adalah hal yang mudah, tinggal mendecakkan lidah karena muncul perasaan bangga. Yang
sesungguhnya harus dikaji adalah bagaimana sampai ia diterima bekerja di tempatnya sekarang menekuni ilmu. Terus terang, dulu ada pihak yang
menolak menerimanya bekerja di tempat kerjanya sekarang. Alasannya karena ia bukan biologiwan “murni” tetapi berasal dari suatu jurusan
terapan di Fakultas Teknologi Pertanian. Untuk itu terpaksa diperlukan intervensi yang sebenarnya melanggar otonomi jurusan untuk menerimanya
bekerja di tempatnya sekarang mengharumkan nama jurusan yang semula menolaknya. Kejadian seperti itu bukan suatu kekhasan di jurusan itu saja. Di jurusan
lain juga ada doktor yang baru saja pulang dari luar negeri, dipecat oleh ketua jurusannya yang tidak berkenan terhadap sikapnya. Kini doktor yang
dipecat itu sudah menjadi orang terkenal yang prestasinya jauh melebihi prestasi orang yang memecatnya. Guru besar pemecat ini juga pernah
menjatuhkan seorang calon doktor dalam ujian lisan prakualifikasi, padahal indeks prestasi calon itu di sekitar 3,7 dari 4,0 dan angka-angka yang
menyusun indeks prestasi itu sebagian besar berasal dari mata kuliah yang diberikan guru besar pemecat itu. Ada lagi orang yang sudah lulus ujian
akhir doktor, tersandung padanya karena ia tidak bersedia membubuhkan tandatangan persetujuan di disertasi mahasiswanya itu. Orang itu kini
bekerja dengan gelar doktor yang lembar pengesahan disertasinya ompong.

Apa hikmah yang dapat ditarik dari kejadian-kejadian itu? Barang siapa berada di puncak pimpinan lembaga penelitian yang menentukan hitam-
putihnya lembaga itu harus sadar, orang yang dibimbingnya adalah peneliti muda yang memiliki wawasan sendiri. Tugas pembimbingan bukanlah mencetak orang agar menjadi seperti
pembimbing itu sendiri tetapi mempersiapkan suatu lingkungan bagi yang dibimbing, agar dapat mengekspresikan kreativitasnya dengan sebaik-
baiknya. Kadang-kadang kreativitas itu menghasilkan temuan yang bertolak-belakang dengan pendapat yang sudah mapan di benak pembimbingnya.
Pembimbing yang seharusnya dinamakan tukang-cetak itu akan menolak pendapat anak-buahnya yang bertentangan itu, namun pembimbing yang
sadar sampai di mana batas kewenangannya sebagai pembimbing akan menerima pengetahuan baru itu sebagai salah satu langkah kemajuan
dalam sains dan menerima orang yang dibimbingnya itu sebagai rekan sekerja dalam memburu pengetahuan baru.

Kini, mari kita renungkan apa kiranya yang terjadi dengan seorang dosen di universitas mapan luar negeri bila ia menemukan terobosan? Seorang PhD
muda bila menjadi dosen akan mendapat pangkat Assistant Professor. Ia akan berstatus tenaga akademik kontrak kerja jangka pendek. Dalam 30
tahun bila ia dapat menunjukkan kebolehannya, ia akan dijadikan dosen tetap dan dinaikkan pangkatnya menjadi associate professor. Kalau dalam
tiga tahun pertama, dosen tidak tetap itu belum menunjukkan prestasi yang meyakinkan, kontraknya dapat diperpanjang selama tiga tahun lagi. Bila
prestasinya tidak meyakinkan lagi, maka pada akhir tahun ketujuh kontraknya dengan universitas itu diputuskan.

Bagaimana kalau dosen muda itu mendapatkan pengetahuan terobosan? Dalam satu tahun saja ia sudah dijadikan dosen tetap dengan pangkat
associate professor dan mungkin juga profesor penuh. Orang seperti inilah yang merupakan calon gurubesar terpilih (distinguished professor). Di India
guru besar dengan prestasi internasional akan diangkat sebagai guru besar nasional dan di Malaysia sebagai guru besar di-Raja atau Royal Professor.
Apa jadinya dengan dosen Indonesia yang membuktikan dirinya telah melakukan terobosan ilmiah? Karena langka sekali, orang seperti ini
nasibnya disamakan dengan dosen-dosen biasa yang setiap hari mencatat apa yang telah dilakukan sepanjang hari di kampus dan kemudian
menerjemahkannya menjadi angka-angka kredit kumulatif. Maka setelah hampir pensiun barulah ia menjadi guru besar madya.
Seyogianya senat guru besar berwenang di luar ketentuan pengumpulan angka kredit, menganugerahkan pangkat guru besar kepada dosen muda
yang telah melakukan terobosan ilmiah. Namun, kewenangan ini ada kendalanya bila kebanyakan anggota senat sama perilakunya dengan guru
besar pemecat itu dan tidak rela ada orang lain dapat melebihinya. Maka tamatlah riwayat sains dan tekno-logi di Indonesia.
Untuk mengatasi kendala-kendala seperti ini agaknya perlu diadakan suatu dewan nasional guru besar peneliti yang masih aktif, yang tugasnya
memberi pengakuan akademik sebagai guru besar nasional kepada dosen-dosen muda di seluruh Indonesia yang telah menunjukkan kreativitasnya
dalam kegiatan penelitian. Ataukah sebenarnya dewan seperti ini sudah ada namun tidak bekerja?